DESKRIPSI DUSUN POHON BATU DESA KAWA KECAMATAN SERAM BARAT KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Maluku merupakan salah satu provinsi tertua dalam sejarah Indonesia merdeka, dan dikenal dengan kawasan seribu pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah ruah. Anak Negeri ini terdiri atas dua kelompok pemeluk agama, yaitu anak negeri Sarani untuk yang beragama Kristen yang mendiami negeri (desa adat) Sarani, dan anak negeri Salam untuk yang beragama Islam yang mendiami negeri (desa adat) Islam. Kedua kelompok masyarakat ini umumnya hidup dalam komunal-komunal (negeri) yang terpisah, kecuali di beberapa desa lainnya yang terdapat di pulau Ambon Maluku. Yang disebut orang dagang ialah para pendatang, baik karena ikatan perkawinan dengan anak negeri, maupun karena tugas-tugas pelayanan masyarakat (guru, mantri kesehatan, mantri pertanian, dan lain-lain), atau karena aktifitas ekonomi (penggarap tanah atau pemungut hasil hutan, atau pedagang). Jadi, orang dagang di sebuah negeri, dapat berasal dari orang Maluku asli yang berasal dari negeri lain, atau pun pendatang dari luar Maluku. Singkatnya yaitu yang berasal dari Buton, dan suku bangsa Cina serta Arab dan lain-lain. Khusus pendatang dari luar Maluku, etnis yang dominan dari segi kuantitas ialah etnis Buton seperti halnya yang terdapat di pulau Seram. Orang dagang dari luar Maluku ini datang dan menetap dalam negeri, baik secara berbaur dengan anak negeri maupun membentuk suatu komunal lain dalam petuanan negeri, dan lebih didominasi oleh kepentingan ekonomi.
Secara administratif sebagai sebuah Dusun, keberadaan Dusun Pohon Batu ini dikenal secara resmi dan telah tercatat dalam sensus kependudukan yang merupakan salah satu Dusun dengan Negeri petuanaan pada Desa Kawa Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku.
Di dalam fakta sejarahnya, menceritakan bahwa cikal bakal latar belakang berdirinya sebuah hunian yang lebih dikenal oleh ranah publik terlebihnya pada kawasan daerah bumi kabupaten Seram Bagian Barat yang bertajuk Saka Mese Nusa ini, dengan nama Dusun Pohon Batu yang berdiri pada pertengahan abad ke 20 tepatnya pada tahun 1950-an yang telah dirintis dan tidak terlepas oleh mereka yang bermula dari para pelayaran etnis Buton dan yang berasal dari kepulauan Buton serta membawa misi agama dengan tujuan utama adalah untuk menyebar-luaskan agama Islam di Maluku dan sekitarnya serta untuk mencari suasana kehidupan baru di Maluku beberapa tahun yang lalu.
Dalam pada itu, sejarah awal mula berdirinya dusun Pohon Batu telah dirintis oleh salah seorang pendahulu hunian ini yang berasal dari kepulauan Buton yang beragama Islam serta bersuku Buton dengan kegigihan dan dengan penuh semangat juang yang begitu besar untuk menyebar-luaskan agama Islam ke Maluku dan sekitarnya tanpa mengenal lelah menempuh jalan ke Maluku melalui jalur pelayaran laut dengan menggunakan Perahu Layar yang terbilang masih tradisional dan sangat sederhana, yang mana pada waktu itu berlayar mengarungi lautan menuju ke Maluku hanya menggunakan layar sebagai alat penggerak utama sebuah Perahu Layar tersebut tanpa menggunakan mesin dan alat penunjuk arah (kompas). Para pendahulu hunian Dusun Pohon Batu sekaligus yang merupakan orang pertama yang merintis dan menginjakkan kakinya di dusun Pohon Batu adalah oleh beliau yang bernama Bapak La Karim (al-marhum) bersama isterinya yang bernama Ibu Wa Ita (al-marhuma) berlayar dari kepulauan Buton menuju ke Maluku kemudian tiba di Maluku pada tahun 1949 tepatnya di suatu tempat yang disebut dan dikenal dengan nama Tanusang pada waktu itu, seiring berjalannya waktu, tempat ini kemudian diganti dan dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Dusun Taman Jaya, yang kemudian sekarang secara administratif daerah ini terletak pada daerah kawasan Kecamatan Piru Kabupaten Seram Bagian Barat.
Al-kisah, salah seorang kerabat menceritakan kepada beliau yakni kepada Bapak La Karim bahwa ternyata diseberang sana telah ditemukan ada sebuah hunian yang dihuni oleh masyarakat pada suatu tempat yang bernama Negeri Kawa, yang mempunyai bahasa tanah (bahasa adat) yang mempunyai ciri khas bahasa tersendiri serta dipimpin oleh salah seorang raja yang bermarga Ely yang merupakan anak asli daerah tersebut. Setelah mendengar sebuah cerita dari salah seorang kerabatnya tersebut, menjelang setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1950 Bapak La Karim bersama Isterinya berlayar menuju daerah Negeri Kawa tersebut dengan maksud agar supaya membentuk sebuah hunian baru pada wilayah Negeri Kawa untuk membentuk kehidupan baru dan berbaur dengan masyarakat setempat untuk lebih saling mengenal dengan masyarakat yang menghuni Negeri tersebut. Setelah tiba pada kawasan Negeri Kawa tepatnya pada sebuah teluk sebelah timur yang membentang pada wilayah dataran pesisir Buano Utara yang sekarang dikenal dengan nama Dusun Patinia serta berdekatan dengan Perusahaan Mutiara yang merupakan sebuah tempat yang sekarang dihuni oleh mereka para karyawan yang bekerja dan terdapat pula beberapa diantara mereka anggota polisi dan militer pada Perusahaan Mutiara tersebut, serta Dusun Pohon Batu berdekatan pula dengan Dusun Pelita Jaya, dan Dusun Pulau Osi yang sekarang lebih dikenal dan dijadikan sebagai tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai penjuru di Negeri ini. Tempat ini memiliki pemandangan yang cukup indah terlihat dipandang mata dan juga mempunyai beberapa penginapan yang sangat sederhana yang memiliki tata letak keberadaan penginapan tersebut pada posisi lautan di sepanjang wilayah pesisir pantai Dusun Pulau Osi, serta di tempat ini pula telah tersedikan beragam jenis Ikan segar khusus disedikan untuk setiap para pengunjung oleh mereka para pengelola tempat wisata tersebut.
Kota Piru, adalah salah satu kawasan Kota Kecamatan sekaligus merupakan pusat Pemerintahan Kota Kabupaten Seram Bagian Barat. Singkatnya, secara umum dari sinilah awalnya, apabila hendak menuju ke Dusun Pohon Batu melalui jalur lintasan jalan darat maka didahului oleh Kota Piru tersebut kemudian melalui Jalan Lintas Seram melewati Kota Piru setelah kurang-lebih menempuh jarak 1 kilo meter akan menemukan Kantor DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat dan setelah itu terdapat sebuah hunian yang bernama Dusun Resetlemen Pulau Osi, awalnya Dusun ini merupakan perpindahan masyarakat dari Dusun Pulau Osi. Setelah itu, akan melintasi sebuah hunian yang bernama Dusun Pelita Jaya, Dusun Pelita Jaya ini merupakan salah satu akses jalur menuju ke tempat wisata yang berada pada Dusun Pulau Osi. Setelah melintasi Dusun Pelita Jaya, akan menemukan sebuah hunian masyarakat yang bernama Mumul, setelah itu disusul dengan sebuah hunian yang bernama Dusun Waitoso, Dusun Waitoso merupakan salah satu Dusun yang masyarakatnya adalah masyarakat transmigrasi dari Pulau Jawa dan sekarang dipimpin oleh seorang Kepala RT. Setelah Dusun Waitoso, dan kiranya setelah menempuh jarak kurang lebih 1 kilo meter maka sampailah ke Dusun Pohon Batu.
Di kala itu, pada zaman dahulu terdapat sebuah tempat yang tata letak keberadaanya berada pada kawasan pesisir pantai sebelah timur di Dusun Pohon Batu ada salah satu pantai sejak dahulu kala sampai dengan sekarang pantai tersebut dijuluki oleh penghuni masyarakat setempat dengan nama pantai Haji. Asal-usul julukan penamaan pantai ini adalah dilatar-belakangi oleh salah seorang tokoh yang bernama H. Abubakar, beliau adalah salah seorang Haji yang berasal dari Dusun Pulau Osi yang datang ke Dusun Pohon Batu pada tahun 1969 dengan tujuan untuk memperbaiki Perahu Layar yang dimilikinya serta memilih pantai tersebut sebagai tempat berlabuhnya Perahu Layar beliau dari ganasnya amukan gelombang air laut, karena kawasan pantai ini merupakan sebuah teluk yang terbilang sangat strategis sebagai tempat berlabuhnya Perahu Layar.
Di kawasan wilayah bagian Timur pesisir pantai Haji inilah tepatnya di Dusun Pohon Batu pada akhir tahun 1996 memasuki tahun 1997 masyarakat Dusun Pohon Batu mendapat bantuan yang merupakan pencanangan bantuan dari pemerintah serta melalui swadaya masyarakat berupa pembuatan air bersih serta direncanakan oleh masyarakat Dusun Pohon Batu dalam bentuk pembuatan Sumur Bor (pompa) dengan jarak kurang lebih sekitar 25 meter dari pesisir pantai Haji pada masa kepemimpinan oleh seorang kepala Dusun yang bernama La Nania. Singkatnya, pada saat masyarakat Dusun Pohon Batu hendak bekerja melakukan pembuatan Sumur Bor (pompa), setelah melakukan pengeboran/ penggalian mencapai kedalaman yang maksimal layaknya sebuah Sumur Bor yang lain pada umumnya telah menemukan air sesuai dengan harapan masyarakat tersebut yakni ingin memperoleh dan menggunakan air bersih. Tapi sayangnya, keberhasilan masyarakat tersebut untuk memperoleh air bersih sedikit meleset dari harapan mereka pada awalnya, karena setelah melihat dan memperhatikan air yang dihasilkan oleh Subur Bor yang baru saja dikerjakan tersebut sejenak ternyata air tersebut mengandung minyak bumi yang merupakan sumber daya alam yang terdapat pada kawasan pesisir pantai tersebut. Hal ini membuktikan bahwa terdapat beragam aneka kekayaan sumber daya alam yang berlimpah ruah di kepulauan bumi Maluku.
Dusun Pohon Batu Desa Kawa Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram Bagian Barat, sejak zaman dahulu di kenal sebagai home base para pelaut. Kawasan ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan memiliki bentangan alam yang menakjubkan yang berbentuk sebuah teluk. Oleh karena itu, dipastikan segala armada baik yang bertonase kecil ataupun sebesar kapal pesiar pun dapat berteduh dengan nyaman dan damai dari ganasnya amukan gelombang air laut disaat cuaca tidak bersahabat. Karakteristik wilayah pada kawasan pesisir tempat hunian ini dengan dasar laut atau alur yang dalam dan bersentuhan langsung dengan bentengaan karang sehingga memudahkan segala jenis armada dapat dengan langsung menyentuh daratan untuk berlabuh para kapal-kapal tersebut. Dusun pohon batu dikenal juga sebagai pelabuhan alam yang tak pernah merasakan riaknya gelombang air laut.
Menyadari dan menyikapi akan kondisi tersebut, oleh pemerintah membangun Tambatan Perahu sebagai sarana penunjang transportasi di kawasan tersebut. Pemelihan lokasi pada kawasan ini agak menyulitkan pemerintah, karena hampir secara keseluruhan lokasi Tambatan atau berlabunya Kapal/ armada memiliki kedalaman yang lebih dari 10 M dari bibir daratan, dilain sisi dasar lautan pada kawasan tersebut didominasi oleh karang yang keras. Lokasi Tambatan Perahu Dusun Pohon Batu diletakan pada bagian Timur kawasan pesisir pantai Dusun Pohon Batu dan bersinggung langsung dengan kawasan perumahan. Tambatan perahu ini memeliki fungsi ganda selain sebagai home disaat musim gelombang juga menjadi nadi pergerakan penumpang dan barang bagi masyarakat sekitar dari tiga buah pulau utama yakni, Manipa, Kelang dan Buano dan lainya yang secara kontinu memasarkan hasil perikanan, perkebunan dan pertanian dan hasil lainya untuk dipasarkan ke daerah sekitarnya maupun ke Kota Kecamatan, Ibu Kota Kabupaten, dan Kota Ambon.
Mantap abang atas tulisannya, sehingga katong seng perlu repot" bajalang cari" lai soalnya akang su ada di blogspot ini👍
BalasHapusMantul bang
BalasHapusMantul bang
BalasHapus